Home / Lain-Lain / Cerita Saya Belajar Embedded System

Cerita Saya Belajar Embedded System

Hari ini saya akan sedikit sharing tentang pengalaman saya manjajaki dunia elektronika lebih khususnya embedded system. Cerita saya ini akan saya mulai dari ketertarikan saya di bidang elektronika. Pertama sekali saya mengenal dunia elektronika adalah kelas 3 SMP. Kala itu saya ditugaskan oleh guru fisika saya untuk mengumpulkan komponen elektronika dasar, contohnya resistor, kapasitor, elko, dll. Kebetulan sekali saya dari dulu memang senang bongkar-bongkar alat rusak di rumah. Walkman, Video Game, dll sudah pernah saya bongkar semua, dari PCB yang rusak tersebut saya ambil komponennya untuk tugas saya tadi. Dari sana saya mulai mengenal nama-nama komponen seperti resistor, LED, dioda, dll. Mulai dari situ mulai tertarik di dunia elektronika, alhasil setelah lulus SMP saya berniat untuk melanjutkan ke SMK jurusan elektronika. Di SMK inilah saya mulai belajar banyak tentang elektronika. Dulu perlajaran yang paling saya suka adalah Teknik Digital, karena asik banyak menggunakan LED, hehehe. Selain itu juga mengasah logika berfikir. Dari mulai SMK, saya sudah sering ngoprek-ngoprek sendiri. Dulu modalnya cuma warnet, project board, dan komponen-komponen yg saya beli dekat rumah. Saya senang membuat rangkaian-rangkaian di project board kala itu. Dari rangkaian sirine, counter, jam digital, semuanya saya buat di project board. Ada kepuasan tersendiri ketika rangkaian yang saya buat berhasil. Mulai ke kelas 3 pelajaran saya pun semakin asik, belajar mikroprosessor Z80, mikrokontroler 68HC11. Pertama sekali merasakan memprogram sebuah perangkat embedded adalah saat saya belajar mikroprosessor. Dulu mrogramnya rasanya setengah mati, harus punya penerjemahnya dulu. Gak kayak sekarang, tinggal pakai software. Program yang saya buat dulu paling program penjumlahan, pengurangan bilangan hexa. Itu juga rasanya udah pusing. Di mikrokontrolerpun jga seperti itu, program yang saya buat paling keren adalah running LED. Dulu saya mengggunakan trainer mikrokontroler 68HC11 buatan VEDC Malang. Kala itu sebetulnya mikrokontroler MCS51 sudah ngetren. Rasa penasaran saya pun berlanjut ketika saya mulai kuliah, ketika semester 1 saya mencoba untuk ikut seleksi tim robot di kampus. Sedihnya ketika itu saya gak jebol :(, miris sekali kalau ingat hal tersebut. Yah, karena gak jebol saya pun gak cuma diam dan ngelamun di rumah. Saya bertekad untuk belajar mikrokontroler sendiri di rumah. Kamar pun menjadi bengkel, komponen berserakan disana dimari. Kala itu saya memulai belajar MCS51, karena mikrokontroler yang dijual di daerah saya cuma itu. Coba buat downloaderna dari paralel port, membuat minimum sistemnya. Senang sekali ketika rangkaian saya berfungsi dan sudah bisa diisi program. Nyoba-nyoba buat running LED, dan percobaan yang lain. Ketika itu lagi ngetren-ngetrennya AVR, saya pun sangat tertarik untuk mencoba. Sempat keliling di toko elektronik di Pasar Jodoh, Batam untuk membeli mikrokontrolernya. Untuknya waktu itu ada 1 toko yang menjual. Mulailah saya belajar, membeli buku pemrograman AVR dengan Code Vision. Saya coba semua percobaan-percobaan yang ada. Dari sanalah saya mengenal tentang mikrokontroler sesungguhnya, secara otodidak dan modal buku sama internet. Padahal saat itu di kampus belum mulai pelajaran tentang mikrokontroler. Sudah bosan ngoprek mikrokontroler saya beralih ke robot. Nyoba beli mainan mobil-mobilan, kemudian saya preteli dan dikasih kontroler. Referensi saya dulu untuk membuat robot adalah dari salah satu blog yang membahas PID kontroler line follower Gedex Blog. Sekarang saya coba cari di google udah gak ada lagi. Ketika itu saya sangat puas sekali bisa membuat robot, walaupun impian saya untuk masuk ke tim robot tidak berhasil sebelumnya. Nah, untuk tahun kedua penerimaan tim robot akhirnya saya bertekad untuk mendaftar kembali, untuk kali ini seleksinya adalah membuat line follower. Karena saya sudah pernah buat sebelumnya, jadi saya merasa sedikit pede. Line follower saya pun saya modifikasi dengan ADC, rangkaian pun menjadi lebih rapi. Syukur akhirnya untuk seleksi yang kedua ini saya diterima. Pada waktu itu saya ditetapkan pada divisi berkaki. Robot tersebut berhasil sampai peringkat 4 nasional kala itu. Itu merupakan robot terperfect yang saya buat dari design mekanik, pcb, dll merupakan kerjaan saya sendiri. Puas memang rasanya ketika kita sudah berhasil membuat sebuah karya yang hebat. Mulai dari situ robot udah gak asing lagi bagi saya. Sampailah lulus dari D3 saya mendapatkan beasiswa di ITB, kali ini agak sedikit berbeda kondisinya. Jauh dari orang tua, jadi anak kos, uang pun pas-pasan. Ketika kondisi terjepit seperti itu saya beranikan diri untuk membuka jasa pembuatan alat dengan mikrokontroler. Saya posting di blog, di kaskus, dll. Lumyan juga ternyata hasilnya bisa untuk menyambung hidup sehari-hari. Mulai dari sana saya mulai serius tentang embedded system ini. Alat telemetri, timer balapan, display, dll sudah pernah saya kerjakan. Dari sana juga saya banyak belajar tentang hal baru, dan pastinya banyak begadangnya. Dan hal ini berlanjut sampai saat ini. Sampai muncullah mimpi untuk membuat toko online yang punya produk sendiri seperti sparkfun, DFRobot, IteadStuido, dll. Yah, boleh dikatakan apa yang saya pelajari dulu, itulah yang saya kerjakan sekarang. Saya lebih menemukan taste dengan jadi tukang oprek. Saya juga sangat mencintai pekerjaan sebagai tukang buat alat, tukang oprek ketimbang yang lainnya 😀

About Eko Rudiawan

Seorang lelaki yang punya ketertarikan dengan dunia elektronika dan robot yang saat ini sedang serius belajar tentang dunia bisnis dan internet marketing. My dream to be success technopreneur

Check Also

Teknologi Militer Masa Kini

Tulisan ini sengaja saya buat karena beberapa saat yang lalu heboh dengan debat capres yang …

4 comments

  1. Sangat inspiratif sekali Mas Eko. Saya pun dulu punya hobby dan keinginan yang sama, saya tertarik hampir pada semua mikrokontroler, plc, dan pernak pernik teknik digital lainnya hingga sekarang, hanya saja hampir semua eksperimen yang saya kerjakan belum ada yang berhasil dengan baik, tetapi tentu saja semangat masih tetap tinggi.

    Saya salut terhadap Anda, kalau boleh saya minta referensi dan saran, dari mana sebaiknya saya mulai belajar mikrokontroler. Terimakasih

    Slam, Wawan

  2. Salam kenal mas Eko Rudiawan, salam satu passion.. diawal sampai tengah cerita MCS51, AVR hingga VEDC Malang, mirip dengan saya hehe, semasa ikutan ekstrakurikuler elektronika kelas 1 smp suruh bikin radio MW, disitu mulai kenal, awalnya ga ngerti blass sama sekali komponen2 itu haha.. dan setiap dapat uang saku lebaran dari orang tua atau nenek selalu habisnya ke toko elektronik untuk beli komponen untuk eksperimen buat alat,, hingga kuliah, bikin robot micromouse menggunakan AT89C51 (MCS-51 Family) dapat nilai tertinggi sekampus kala itu haha.. sekarang pekerjaan ini menjadi pekerjaan yang sangat saya sukai sampai sekarang..sama seperti mas eko.. salute buat mas eko.. semoga share ilmunya bermanfaat terus bagi semua orang dan catatan amal kebaikan. Aamiin…

  3. salam kenal mas eko, pengalaman yg sangat penuh inprisasi. tentu boleh saya bertanya dengan mas eko seputar robot ??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × five =