Home / Lain-Lain / Dari Batam ke Pondok Cabe

Dari Batam ke Pondok Cabe

Tak terasa sudah satu minggu aku menetap di tempat baru ini, tempat yang diberi nama Pondok Cabe. Di tempat ini aku akan menimba ilmu selama beberapa bulan, sebelum melanjutkan kuliahku di D4 ITB. Aku berasal dari Kota Batam, kota kecil yang dipenuhi dengan industri dan pusat perdagangan, kota perbatasan yang sangat dekat dengan negara Singapura.

Disini aku akan sedikit bercerita tentang kota asalku. Aku memang tidak lahir di kota Batam, namun sejak kelas 3 SD aku sudah menetap disana. Jika membandingkan antara kota Ku dengan Pondok Cabe ini, sungguh jauh rasanya. Di kota Ku banyak terdapat pusat perbelanjaan atau mall, namun di Pondok Cabe ini aku hampir tidak menemukan mall atau pusat perbelanjaan seperti di Batam. Dari segi cuaca, mungkin boleh dibilang sama. Sama-sama bercuaca panas, namun aku merasa di Pondok Cabe ini hawa panas sungguh sangat terasa.

Jika bercerita tentang kota Batam, maka tidak akan jauh dengan industri, perdagangan, dan pariwisata. Mungkin sudah banyak yang tahu bahwa batam merupakan pusat industri dan perdagangan. Ya, di daerah asalku hampir di semua tempat terdapat perusahaan ataupun pusat perdagangan. Oleh karena itu, banyak masyarakat pendatang dibandingkan dengan masyarakat tempatan, sama halnya seperti di Jakarta ini. Namun satu hal yang mungkin orang tidak ketahui dari kota asal ku ini yaitu tentang pariwisata. Batam merupakan kota ketiga yang banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara, setelah Bali dan Jakarta. Uniknya lagi, wisatawan yang berkunjung ke Batam, baik wisatawan lokal maupun internasional hanya datang untuk berbelanja. Kebanyakan wisatawan lokal datang ke batam untuk membeli perangkat elektronik seperti handphone, laptop, dll. Mereka beranggapan barang elektronik di batam lebih murah di banding di daerah mereka. Setelah sampai di bandung dan jakarta, saya ingin membuktikan anggapan itu. Ternyata benar bahwa perangkat elektronik lebih murah. Saya membandingkan harga laptop sungguh jauh bedanya, sekitar 300 ribu lebih itupun laptop  tanpa sistem operasi. Jika wisatawan lokal lebih banyak yang berbelanja gadget dan lain-lain, wisatawan mancanegara lebih banyak tertarik untuk berbelanja baju. Pusat perbelanjaan yang terkenal banyak dikunjungi oleh wisatawan antara lain adalah BCS Mall. Pada hari sabtu dan minggu kunjungan ke BCS Mall dipenuhi oleh orang Singapura ataupun Malaysia. Mereka datang ke Batam hanya untuk belanja, kunjungan merekapun rata-rata tidak lama hanya sehari saja, berangkat pagi pulang sore. Karena jarak Batam,   Singapura, dan Malaysia cukup dekat mereka cukup datang dengan naik Ferry. Bahkan anak-anak usia sekolah pun banyak yang datang kebatam diakhir pekan, tanpa didampingi orang tua mereka.

BCS Mall Batam

Kota asalku ini patut diacungi jempol dalam hal pembangunan. Batam mulai banyak dikunjungi pendatang pada awal tahun 90an. Jika berkunjung ke Batam pada tahun itu, mungkin anda akan merasa berada di hutan belantara, karena memang baru sekelompok kecil orang yang tinggal disana. Awal saya datang ke batam pada tahun 1998, pada saat krisis orang tua saya memutuskan untuk pindah ke kota ini. Pertama datang ke Batam, sungguh serasa sepi, kanan dan kiri jalan adalah hutan. Panasnya melebihi yang aku rasakan di Pondok Cabe sekarang ini. Masih banyak lahan kosong, tidak ada mall, rasanya seperti berada di daerah terpencil. Seiring waktu, batam mulai berbenah. Investor asing pun banyak berdatangan, karena memang Batam merupakan lokasi strategis untuk berbisnis karena dekat dengan negara lain dan selat malaka ( jalur perdagangan luar negeri ). Saat  ini kondisi kota asalku sungguh luar biasa, mungkin hapir setiap jarak 3km terdapat Mall dan daerah industri. Sungguh ramai rasanya sekarang dibandingkan dengan beberapa puluh tahun lalu. Satu hal lagi, walaupun merupakan pusat industri dan perdagangan, kami jarang merasakan kemacetan. Tata kota boleh dibilang cukup rapi, pinggir jalan raya rata-rata dibangun kompleks pertokoan. Inilah yang membuat ku sangat nyaman tinggal di daerah asalku.

Batam Tahun 90an ( Gedung-gedung tinggi yang terlihat itu adalah Singapura )

Batam Tempo Kini

About Eko Rudiawan

Seorang lelaki yang punya ketertarikan dengan dunia elektronika dan robot yang saat ini sedang serius belajar tentang dunia bisnis dan internet marketing. My dream to be success technopreneur

Check Also

Teknologi Militer Masa Kini

Tulisan ini sengaja saya buat karena beberapa saat yang lalu heboh dengan debat capres yang …

3 comments

  1. Lusi Asrawati Sihotang

    Lanjutkan dan tingkatkan batam island.
    I like Batam………..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five − one =